Anin ditha citra, gadis yang biasa dipanggil citra, seorang
gadis cantik, pintar dan manis ini bersekolah di sma cendrawasih. Citra
memiliki kakak perempuan yang bernama cindy. Orang tua citra adalah
orang yang sangat sibuk, yang mereka pikirkan hanyalah bisnis mereka,
sampai-sampai citra dan cindy tidak diperhatikan oleh mereka.
Pagi itu gadis cantik yang bernama aninditha citra melangkahkan kakinya memasuki sekolahnya, semua mata tertuju kepada gadis yang biasa di sapa citra ini, bagaimana tidak? Pagi itu citra sangatlah terlihat cantik. Berbagai pujian dilontarkan oleh siswa-siswa, tapi citra tak menghiraukannya dan ia terus berjalan menuju kelasnya. Sesampainya di kelas ia segera menghampiri sahabat-sahabatnya.
“selamat pagi semua” sapa citra dengan senyum sangat manis
“pagi juga citra” gadis cantik dan bermata sipit yang bernama angel
“pagi” kata gadis yang agak tomboy yaitu nabila dan gadis yang hitam manis yaitu rara
“tumben kamu datangnya cepat, biasanya kamu telat” sambung angel
“hooh” nabila dan rara membenarkan
“ya gak papa sih, emang salah ya kalau aku datangnya cepet?” tanya citra
“nggak juga sih” jawab mereka bertiga
Beberapa menit kemudian, guru pelajaran matematika masuk, dan menyuruh siswa mengumpulkan tugasnya, namun citra lupa membawa bukunya, sampai-sampai ia harus dihukum hormat kepada tiang bendera sampai pelajaran matematika selesai. Matahari sangatlah terik, wajah citra terlihat pucat sekali, tiba-tiba ada darah yang keluar dari hidungnya.
“ya allah, ada apa ini? Kenapa aku mimisan gini” kata citra dengan lemah
Kemudian citra terjatuh pingsan. Guru yang melihat citra pingsan langsung membawanya ke uks dan memberitahukan kepada guru matematika dan teman-teman citra di kelas.
Jam istirahat pun tiba, di uks sudah ada sahabat-sahabat citra, siapa lagi kalau bukan rara, angel dan nabila. Namun, citra belum juga sadar. Akhirnya guru yang bertugas di uks menelpon orang tua citra, untuk menjemput citra .
Tiga puluh menit kemudian, orang tua citra datang menjemput citra yang masih pingsan, dan membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung memeriksa citra, di luar ruangan periksa orang tua citra dan kakaknya yang bernama cindy sedang menunggu dengan cemas.
“tumben banget mama sama papa peduli sama citra, biasanya mama sama papa hanya mementingkan bisnis” kata cindy. Tapi orang tuanya tidak menanggapinya
Beberapa menit kemudian dokter pun keluar dari ruang periksanya.
“dok, gimana keadaan citra?” kata cindy dan orang tuanya
“saya mau bicara dengan bapak dan ibu” kata dokter
“mau bicara apa dok” tanya papa citra
“bapak dan ibu ikut ke ruangan saya” kata dokter
Orang tua citra pun menuju ke ruangan dokter, sementara cindy masuk ke dalam ruangan citra.
“kamu udah sadar ternyata, kamu gak papa kan?” tanya cindy cemas
“aku gak papa kok kak, oh ya mama sama papa tadi ada disini?” tanya citra
“iya, mereka lagi di ruangan dokter” kata cindy
“alhamdulillah, mama sama papa akhirnya peduli sama aku” kata citra senang
Tak beberapa lama kemudian orang tua citra pun datang memasuki ruangan tersebut dengan wajah yang sedih.
“hallo sayang” sapa mama dan papa citra
“hay ma, mama kata dokter gimana?” tanya citra
“kata dokter, kamu mengidap penyakit kanker sayang” kata mama citra dengan deraian air mata
“apa? Ini gak mungkin ma, ini gak mungkin” kata citra
“kamu yang sabar ya sayang, ini semua sudah takdir, dan besok kamu akan di operasi” kata papa citra
Citra hanya bisa menangis, begitu pula cindy yang merasa kasihan kepada saudaranya itu. Satu menit kemudian handphone papa citra berbunyi tanda sms masuk.
“sayang, mama sama papa pergi dulu ya, tiba-tiba ada meeting mendadak di kantor” kata papa citra segera keluar, dan disusul oleh mama citra
“mama sama papa tega banget sih sama aku, aku lagi sakit gini tapi mama sama papa masih mentingin bisnis mereka, apa aku harus mati supaya mama sama papa merhatiin aku?” kata citra sedih
“ustt.. Kamu gak boleh ngomong gitu dek, masih ada kakak disini yang peduli dan sayang sama kamu” kata cindy menghibur adiknya tersebut
“makasih ya kak” kata citra memeluk kakaknya tersebut
“iya dek, sama-sama” kata cindy membalas pelukan kakaknya
Kini jam menunjukkan pukul 11.00 malam, namun orang tua citra belum juga pulang dari kantornya.
“kamu tidur aja, besok kan kamu harus di operasi” kata cindy
“iya kak, kakak juga tidur ya” kata citra
“iya.. Selamat tidur ya dek” kata cindy kemudian berjalan menuju sofa untuk tidur
“selamat tidur juga” kata citra
Kini cindy sudah tertidur, namun citra belum, ia sedang menulis sesuatu di sebuah kertas, entah apa itu. Setelah menulis, citra pun tertidur.
Jam 12.00 orang tua citra datang dari kantornya.
Jam 07.00 pagi, cindy dan kedua orangtuanya sudah bangun, sahabat-sahabat citra juga sudah datang di rumah sakit untuk menjenguk citra. Namun, citra belum juga bangun.
“dok, kok citra dari tadi gak bangun-bangun sih?” tanya mama citra
“bentar saya periksa dulu” kata dokter
Dokter pun memeriksa citra, belum cukup satu menit dokter pun menoleh ke arah kedua orang tua citra sambil menghela nafas panjang
“anak ibu sudah tidak ada” kata dokter
“apa? Enggak… Ini gak mungkin, dokter bohong kan, dokter jangan main-main ya” tanya papa citra sambil memegang kerah leher dokter tersebut
“sabar pak, ini semua sudah takdir tuhan, permisi” kata dokter tersebut meninggalkan ruangan
“citraaa.. Kamu jangan tinggalin mama sayang” kata mama citra sambil menangis
“citraaa, kakak masih butuh kamu” kata cindy menangis begitu pula sahabat-sahabatnya
Mama citra melihat sebuah kertas di dekat citrra, mama citra pun mengambilnya dan membacanya. Ternyata itu surat dari citra untuk orang-orang yang ia sayangi, yang berisi:
Airmata mengalir deras di mata kedua orang tua citra, begitu pula cindy dan sahabat-sahabatnya.
“maafkan mama sama papa sayang, selama ini lebih mentingin bisnis” kata kedua orang tua citra menyesal
“kami juga sayang sama kamu citra” kata mereka semua
Hari itu tepat tanggal 04 september 2012 citra dimakamkan di kampung halamannya yaitu di palembang, sumatera selatan.
Pagi itu gadis cantik yang bernama aninditha citra melangkahkan kakinya memasuki sekolahnya, semua mata tertuju kepada gadis yang biasa di sapa citra ini, bagaimana tidak? Pagi itu citra sangatlah terlihat cantik. Berbagai pujian dilontarkan oleh siswa-siswa, tapi citra tak menghiraukannya dan ia terus berjalan menuju kelasnya. Sesampainya di kelas ia segera menghampiri sahabat-sahabatnya.
“selamat pagi semua” sapa citra dengan senyum sangat manis
“pagi juga citra” gadis cantik dan bermata sipit yang bernama angel
“pagi” kata gadis yang agak tomboy yaitu nabila dan gadis yang hitam manis yaitu rara
“tumben kamu datangnya cepat, biasanya kamu telat” sambung angel
“hooh” nabila dan rara membenarkan
“ya gak papa sih, emang salah ya kalau aku datangnya cepet?” tanya citra
“nggak juga sih” jawab mereka bertiga
Beberapa menit kemudian, guru pelajaran matematika masuk, dan menyuruh siswa mengumpulkan tugasnya, namun citra lupa membawa bukunya, sampai-sampai ia harus dihukum hormat kepada tiang bendera sampai pelajaran matematika selesai. Matahari sangatlah terik, wajah citra terlihat pucat sekali, tiba-tiba ada darah yang keluar dari hidungnya.
“ya allah, ada apa ini? Kenapa aku mimisan gini” kata citra dengan lemah
Kemudian citra terjatuh pingsan. Guru yang melihat citra pingsan langsung membawanya ke uks dan memberitahukan kepada guru matematika dan teman-teman citra di kelas.
Jam istirahat pun tiba, di uks sudah ada sahabat-sahabat citra, siapa lagi kalau bukan rara, angel dan nabila. Namun, citra belum juga sadar. Akhirnya guru yang bertugas di uks menelpon orang tua citra, untuk menjemput citra .
Tiga puluh menit kemudian, orang tua citra datang menjemput citra yang masih pingsan, dan membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung memeriksa citra, di luar ruangan periksa orang tua citra dan kakaknya yang bernama cindy sedang menunggu dengan cemas.
“tumben banget mama sama papa peduli sama citra, biasanya mama sama papa hanya mementingkan bisnis” kata cindy. Tapi orang tuanya tidak menanggapinya
Beberapa menit kemudian dokter pun keluar dari ruang periksanya.
“dok, gimana keadaan citra?” kata cindy dan orang tuanya
“saya mau bicara dengan bapak dan ibu” kata dokter
“mau bicara apa dok” tanya papa citra
“bapak dan ibu ikut ke ruangan saya” kata dokter
Orang tua citra pun menuju ke ruangan dokter, sementara cindy masuk ke dalam ruangan citra.
“kamu udah sadar ternyata, kamu gak papa kan?” tanya cindy cemas
“aku gak papa kok kak, oh ya mama sama papa tadi ada disini?” tanya citra
“iya, mereka lagi di ruangan dokter” kata cindy
“alhamdulillah, mama sama papa akhirnya peduli sama aku” kata citra senang
Tak beberapa lama kemudian orang tua citra pun datang memasuki ruangan tersebut dengan wajah yang sedih.
“hallo sayang” sapa mama dan papa citra
“hay ma, mama kata dokter gimana?” tanya citra
“kata dokter, kamu mengidap penyakit kanker sayang” kata mama citra dengan deraian air mata
“apa? Ini gak mungkin ma, ini gak mungkin” kata citra
“kamu yang sabar ya sayang, ini semua sudah takdir, dan besok kamu akan di operasi” kata papa citra
Citra hanya bisa menangis, begitu pula cindy yang merasa kasihan kepada saudaranya itu. Satu menit kemudian handphone papa citra berbunyi tanda sms masuk.
“sayang, mama sama papa pergi dulu ya, tiba-tiba ada meeting mendadak di kantor” kata papa citra segera keluar, dan disusul oleh mama citra
“mama sama papa tega banget sih sama aku, aku lagi sakit gini tapi mama sama papa masih mentingin bisnis mereka, apa aku harus mati supaya mama sama papa merhatiin aku?” kata citra sedih
“ustt.. Kamu gak boleh ngomong gitu dek, masih ada kakak disini yang peduli dan sayang sama kamu” kata cindy menghibur adiknya tersebut
“makasih ya kak” kata citra memeluk kakaknya tersebut
“iya dek, sama-sama” kata cindy membalas pelukan kakaknya
Kini jam menunjukkan pukul 11.00 malam, namun orang tua citra belum juga pulang dari kantornya.
“kamu tidur aja, besok kan kamu harus di operasi” kata cindy
“iya kak, kakak juga tidur ya” kata citra
“iya.. Selamat tidur ya dek” kata cindy kemudian berjalan menuju sofa untuk tidur
“selamat tidur juga” kata citra
Kini cindy sudah tertidur, namun citra belum, ia sedang menulis sesuatu di sebuah kertas, entah apa itu. Setelah menulis, citra pun tertidur.
Jam 12.00 orang tua citra datang dari kantornya.
Jam 07.00 pagi, cindy dan kedua orangtuanya sudah bangun, sahabat-sahabat citra juga sudah datang di rumah sakit untuk menjenguk citra. Namun, citra belum juga bangun.
“dok, kok citra dari tadi gak bangun-bangun sih?” tanya mama citra
“bentar saya periksa dulu” kata dokter
Dokter pun memeriksa citra, belum cukup satu menit dokter pun menoleh ke arah kedua orang tua citra sambil menghela nafas panjang
“anak ibu sudah tidak ada” kata dokter
“apa? Enggak… Ini gak mungkin, dokter bohong kan, dokter jangan main-main ya” tanya papa citra sambil memegang kerah leher dokter tersebut
“sabar pak, ini semua sudah takdir tuhan, permisi” kata dokter tersebut meninggalkan ruangan
“citraaa.. Kamu jangan tinggalin mama sayang” kata mama citra sambil menangis
“citraaa, kakak masih butuh kamu” kata cindy menangis begitu pula sahabat-sahabatnya
Mama citra melihat sebuah kertas di dekat citrra, mama citra pun mengambilnya dan membacanya. Ternyata itu surat dari citra untuk orang-orang yang ia sayangi, yang berisi:
Airmata mengalir deras di mata kedua orang tua citra, begitu pula cindy dan sahabat-sahabatnya.
“maafkan mama sama papa sayang, selama ini lebih mentingin bisnis” kata kedua orang tua citra menyesal
“kami juga sayang sama kamu citra” kata mereka semua
Hari itu tepat tanggal 04 september 2012 citra dimakamkan di kampung halamannya yaitu di palembang, sumatera selatan.
















