This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 08 Desember 2013

Takdir

Anin ditha citra, gadis yang biasa dipanggil citra, seorang gadis cantik, pintar dan manis ini bersekolah di sma cendrawasih. Citra memiliki kakak perempuan yang bernama cindy. Orang tua citra adalah orang yang sangat sibuk, yang mereka pikirkan hanyalah bisnis mereka, sampai-sampai citra dan cindy tidak diperhatikan oleh mereka.
Pagi itu gadis cantik yang bernama aninditha citra melangkahkan kakinya memasuki sekolahnya, semua mata tertuju kepada gadis yang biasa di sapa citra ini, bagaimana tidak? Pagi itu citra sangatlah terlihat cantik. Berbagai pujian dilontarkan oleh siswa-siswa, tapi citra tak menghiraukannya dan ia terus berjalan menuju kelasnya. Sesampainya di kelas ia segera menghampiri sahabat-sahabatnya.
“selamat pagi semua” sapa citra dengan senyum sangat manis
“pagi juga citra” gadis cantik dan bermata sipit yang bernama angel
“pagi” kata gadis yang agak tomboy yaitu nabila dan gadis yang hitam manis yaitu rara
“tumben kamu datangnya cepat, biasanya kamu telat” sambung angel
“hooh” nabila dan rara membenarkan
“ya gak papa sih, emang salah ya kalau aku datangnya cepet?” tanya citra
“nggak juga sih” jawab mereka bertiga
Beberapa menit kemudian, guru pelajaran matematika masuk, dan menyuruh siswa mengumpulkan tugasnya, namun citra lupa membawa bukunya, sampai-sampai ia harus dihukum hormat kepada tiang bendera sampai pelajaran matematika selesai. Matahari sangatlah terik, wajah citra terlihat pucat sekali, tiba-tiba ada darah yang keluar dari hidungnya.
“ya allah, ada apa ini? Kenapa aku mimisan gini” kata citra dengan lemah
Kemudian citra terjatuh pingsan. Guru yang melihat citra pingsan langsung membawanya ke uks dan memberitahukan kepada guru matematika dan teman-teman citra di kelas.
Jam istirahat pun tiba, di uks sudah ada sahabat-sahabat citra, siapa lagi kalau bukan rara, angel dan nabila. Namun, citra belum juga sadar. Akhirnya guru yang bertugas di uks menelpon orang tua citra, untuk menjemput citra .
Tiga puluh menit kemudian, orang tua citra datang menjemput citra yang masih pingsan, dan membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung memeriksa citra, di luar ruangan periksa orang tua citra dan kakaknya yang bernama cindy sedang menunggu dengan cemas.
“tumben banget mama sama papa peduli sama citra, biasanya mama sama papa hanya mementingkan bisnis” kata cindy. Tapi orang tuanya tidak menanggapinya
Beberapa menit kemudian dokter pun keluar dari ruang periksanya.
“dok, gimana keadaan citra?” kata cindy dan orang tuanya
“saya mau bicara dengan bapak dan ibu” kata dokter
“mau bicara apa dok” tanya papa citra
“bapak dan ibu ikut ke ruangan saya” kata dokter
Orang tua citra pun menuju ke ruangan dokter, sementara cindy masuk ke dalam ruangan citra.
“kamu udah sadar ternyata, kamu gak papa kan?” tanya cindy cemas
“aku gak papa kok kak, oh ya mama sama papa tadi ada disini?” tanya citra
“iya, mereka lagi di ruangan dokter” kata cindy
“alhamdulillah, mama sama papa akhirnya peduli sama aku” kata citra senang
Tak beberapa lama kemudian orang tua citra pun datang memasuki ruangan tersebut dengan wajah yang sedih.
“hallo sayang” sapa mama dan papa citra
“hay ma, mama kata dokter gimana?” tanya citra
“kata dokter, kamu mengidap penyakit kanker sayang” kata mama citra dengan deraian air mata
“apa? Ini gak mungkin ma, ini gak mungkin” kata citra
“kamu yang sabar ya sayang, ini semua sudah takdir, dan besok kamu akan di operasi” kata papa citra
Citra hanya bisa menangis, begitu pula cindy yang merasa kasihan kepada saudaranya itu. Satu menit kemudian handphone papa citra berbunyi tanda sms masuk.
“sayang, mama sama papa pergi dulu ya, tiba-tiba ada meeting mendadak di kantor” kata papa citra segera keluar, dan disusul oleh mama citra
“mama sama papa tega banget sih sama aku, aku lagi sakit gini tapi mama sama papa masih mentingin bisnis mereka, apa aku harus mati supaya mama sama papa merhatiin aku?” kata citra sedih
“ustt.. Kamu gak boleh ngomong gitu dek, masih ada kakak disini yang peduli dan sayang sama kamu” kata cindy menghibur adiknya tersebut
“makasih ya kak” kata citra memeluk kakaknya tersebut
“iya dek, sama-sama” kata cindy membalas pelukan kakaknya
Kini jam menunjukkan pukul 11.00 malam, namun orang tua citra belum juga pulang dari kantornya.
“kamu tidur aja, besok kan kamu harus di operasi” kata cindy
“iya kak, kakak juga tidur ya” kata citra
“iya.. Selamat tidur ya dek” kata cindy kemudian berjalan menuju sofa untuk tidur
“selamat tidur juga” kata citra
Kini cindy sudah tertidur, namun citra belum, ia sedang menulis sesuatu di sebuah kertas, entah apa itu. Setelah menulis, citra pun tertidur.
Jam 12.00 orang tua citra datang dari kantornya.
Jam 07.00 pagi, cindy dan kedua orangtuanya sudah bangun, sahabat-sahabat citra juga sudah datang di rumah sakit untuk menjenguk citra. Namun, citra belum juga bangun.
“dok, kok citra dari tadi gak bangun-bangun sih?” tanya mama citra
“bentar saya periksa dulu” kata dokter
Dokter pun memeriksa citra, belum cukup satu menit dokter pun menoleh ke arah kedua orang tua citra sambil menghela nafas panjang
“anak ibu sudah tidak ada” kata dokter
“apa? Enggak… Ini gak mungkin, dokter bohong kan, dokter jangan main-main ya” tanya papa citra sambil memegang kerah leher dokter tersebut
“sabar pak, ini semua sudah takdir tuhan, permisi” kata dokter tersebut meninggalkan ruangan
“citraaa.. Kamu jangan tinggalin mama sayang” kata mama citra sambil menangis
“citraaa, kakak masih butuh kamu” kata cindy menangis begitu pula sahabat-sahabatnya
Mama citra melihat sebuah kertas di dekat citrra, mama citra pun mengambilnya dan membacanya. Ternyata itu surat dari citra untuk orang-orang yang ia sayangi, yang berisi:
Airmata mengalir deras di mata kedua orang tua citra, begitu pula cindy dan sahabat-sahabatnya.
“maafkan mama sama papa sayang, selama ini lebih mentingin bisnis” kata kedua orang tua citra menyesal
“kami juga sayang sama kamu citra” kata mereka semua
Hari itu tepat tanggal 04 september 2012 citra dimakamkan di kampung halamannya yaitu di palembang, sumatera selatan.

Hadapilah…


 Disuatu masa, di tepian laut dengan ombak yang begitu besarnya. Terlihat sebongkah karang besar yang menjulang tinggi dengan perkasanya, berdiri kokoh diantara hempasan ombak-ombak laut. Tak jauh dari sana, terlihat ikan-ikan kecil yang mengelilingi sebongkah karang tersebut, sambil merapat diantara bongkahan karang tersebut, bertanyalah salah seekor ikan kecil kepada bongkahan karang tersebut,
“Wahai karang besar, setiap hari terkena deburan ombak, namun tidak terlihat lelah diwajah mu, malah dirimu terlihat selalu ceria, apakah rahasia dari semua itu?” Tanya si ikan kecil terheran-heran.
” hahahah…..tentu saja, dengan senang hati aku akan menceritakan kepada mu wahai ikan kecil”
Jawab karang besar tersebut :
“Hadapilah….cukup hadapi dan jangan pernah menghindar……” lanjut si karang besar
“Apakah kamu tidak takut suatu saat kamu akan hancur akibat deburan ombak tersebut wahai si karang besar ” Tanya ikan kecil itu lagi
“Tentu saja ketakutan itu pernah menghampiri ku, namun itu dulu….”
“Sekarang didalam pikiran ku hanya ada satu jawaban apabila deburan ombak itu menghampiri ku yaitu hadapilah. Dengan pikiran positif dan pengalaman ku selama ini pasti sekuat apapun deburan ombak menimpahku, diri ku akan sanggup menghadapinya.” Lanjut si karang besar menerangkannya.
Mendengar penjelasan si karang besar, si ikan kecil tersenyum puas, hari ini dia berhasil mendapatkan pelajaran berharga mengenai hidup ini.

Seperti yang dialami oleh karang besar, kita juga selalu dihadapi oleh masalah, tekanan, halangan, tantangan ataupun beban yang begitu besar didepan kita, dan terjadi silih berganti. Sebagai insan yang bijak, alangkah benarnya prinsip yang di paparkan oleh si karang besar diatas yaitu Hadapilah, kita tidak bisa lari dari masalah, karena masalah itu akan selalu mengikuti kita dimana pun kita berada.
Hadapilah semua masalah dengan pikiran positif, dengan ilmu yang telah kita peroleh setiap harinya dan dengan pengalaman yang telah ditaburkan dalam hidup kita, niscaya setiap masalah yang datang pada kita hanya akan seperti deburan ombak yang mengenai sebongkah karang besar berlalu begitu saja.

Cinta di Kedai Ice Cream





 Sore itu langit Jakarta cukup cerah, aku berjalan menikmati suasana sore yang indah. Lampu-lampu jalanan mulai dinyalakan, di ujung sana matahari mulai turun, pulang ke peraduannya.
Aku sampai di kedai kecil tempatku bekerja. Seperti biasa aku melayani tamu-tamu yang mulai berdatangan. Jonathan dan helena, yah mereka lah pelangganku.
“Vanila toping oreo, cokelat dengan toping fruit” aku menghidangkan 2 mangkuk ice cream favorit mereka.
Aku menatap pasangan itu sambil menikmati semangkuk ice cream cokelat favoritku, aku perhatikan cara Jonathan membuat nyaman Helena, sambil sesekali aku tersenyum melihat tingkah manja Helena.
“Hmm apa aku bisa seperti Helena? Sungguh sempurna dia, aku hanya penjual ice cream, mana bisa aku seperti dia” batinku.
“Oreo blend 1, ice cream coklat 1″ tiba-tiba seseorang masuk mengagetkanku.
“Ha, oh iya, silahkan duduk, ditunggu ya” jawabku gugup
Dengan cepat segera aku antarkan pesanannya.
“Silahkan” Aku meletakkan pesanannya.
Saat ia pulang ia meninggalkan secarik kertas “aku menunggumu” ah mungkin hanya tulisan iseng saja fikirku.
Hari-hari berikutnya dia datang lagi, ia selalu datang sendiri namun ia pasti memesan ice cream cokelat tanpa pernah memakan bahkan menyentuhnya pun tidak dan saat pulang ia selalu meninggalkan secarik kertas dengan tulisan yang sama.
Hari ini hujan deras sekali, dia datang dengan pakaian sedikit basah. Pesanan yang sama, aku duduk di hadapannya, kebetulan kedai sedang sepi, dia tersenyum meminum cokelat hangat yang aku beri. Aku menemaninya sambil melahap ice cream di hadapanku.
Saat ia pulang, ia meninggalkan lagi pesan di secarik kertas namun dengan tulisan berbeda “akhirnya kau datang”. Ia juga meninggalkan bingkisan kecil, aku membukanya. Oh betapa terkejutnya aku, sketsa wajahku, sedang duduk, melayani tamu dan masih banyak lagi lengkap dengan tanggal ia membuatnya.
“Apa ini?” tanyaku bingung
“Buat kamu” jawabnya tersenyum “Tetaplah temani aku sesibuk apapun kamu” lanjutnya lalu keluar meninggalkan kedaiku.
Aku tersenyum menikmati semangkuk ice cream cokelat

Cinta Tak Sampai



 
 
 Sudah lama ku mengenalnya. Kira kira 5 tahun yang lalu. Ketika aku duduk di bangku kelas 2 sekolah menengah pertama. Sampai saat ini kita satu kelas dan satu sekolahan. Pertemanan kita begitu baik, tak ada pertengkaran selama 5 tahun itu. Karena kami saling mengerti satu sama lain. Begitu dengan hal yang berkaitan dengan hati, dia selalu senantiasa mendengarkan kata kataku, tangisanku, ocehanku dengan sabar. Tak seperti pria yang dulu telah menghiasi hariku yang kini menghilang entah kemana.
Riyan sahabatku itu sampai saat ini belum merasakan bagaimana rasanya Jatuh Cinta. Dari cara ia berbicara, melihat, memegang wanita masih terlalu polos. Tapi kurasa ia sangat pandai dalam hal itu walau ia tak pernah merasakannya. Caranya menasihatiku seperti sudah sangat mahir dengan permasalahan di dalam hubungan. Tak kurasa juga sebentar lagi kita lulus dan akan melanjutkan hidup masing masing.
Tetapi jika Tuhan berkehendak pada kita. Kita akan tetap selalu bersama.
Pukul 20.00 suara motor berada di depan rumahku. Segera kubukakan pintu dan ternyata Riyan berkunjung ke rumah malam hari. Aku bingung, tak seperti biasanya Riyan datang ketika matahari menjadi bulan. Riyan memarkirkan motornya di halaman. Dan kulihat jelas wajahnya penuh senyuman.
“Hey..” sapanya
“Hey yan, ada apa? Tumben banget malem malem ke rumah..” tanyaku penuh keheranan
“Aku mau ajak kamu keluar, boleh?”
“Boleh aja sih, mau kemana?”
“Ehm ikut aku aja deh nanti kamu pasti juga bakalan tau. Nggak ada acara kan malem ini?”
“Ngga kok, bentar ya aku ganti baju dulu”
Setelah selesai. Aku ikut dengan Riyan. Entah ingin diajaknya kemana malem ini. Aku hanya bisa menuruti kemauannya karena ia teman baikku. Angin malam begitu dingin membuat bulu romaku berdiri. Riyan memberhentikan motornya di sebuah taman yang cukup indah, penuh dengan lampu warna warni dan terlihat begitu cantik. Riyan menggandeng tanganku ke kursi di tengah taman tersebut.
“Yan kamu mau ngapain sih?”
“Coba kamu lihat ke atas sana…”
Kulihat ke atas penuh bintang yang bergemerlap
“..indah bukan bintang itu” lanjutnya.
Aku menoleh dan tersenyum padanya. Kulihat ke arah atas lagi. Bintang semakin banyak menghiasi langit.
“Sumpah bintangnya bagus banget, yan”
“Kamu senang kan aku ajak kamu kesini?”
“Iya aku seneng banget. Makasih ya, yan”
Tak ada jawaban yang Riyan ucapkan. Seketika suasana hening sekejap. Riyan menaruh tangannya di belakang pundakku. Dirangkulnya aku dengan tangannya. Aku terdiam merasakannya.
“Put, aku boleh jujur ngga tentang perasaanku?”
“Boleh yan, jujur aja”
“Sudah 5 tahun kita bersama kan, Put”
“Iya emang kenapa?”
“Tapi belakangan ini hal yang mungkin wajar pertama kali kurasakan tiba juga. Aku mencintaimu..”
Aku terdiam.
“Aku mencintaimu bukan karena apapun. Menurutku kamu memang wanita yang sederhana, apa adanya, mengerti aku. Dan sampai sekarang tak ada pertengkaran di antara kita..”
Aku masih terdiam.
“Kenapa kamu diam? Apa aku salah mencintaimu lebih dari seorang teman? Bagiku kamu adalah wanita yang langka dicari pria untuk dijadikan kekasihnya. Aku tahu kita sudah lama berteman, dan aku sadar mungkin kamu tidak mempunyai perasaan yang sedang kurasakan saat ini. Maafkan aku, Put. Aku mengkhianati persahabatan ini”
Aku mencoba menjawab
“Untuk apa kamu meminta maaf. Sedangkan kamu tak salah. Menyukai lawan jenis itu wajar. Tak ada salahnya jika kamu mencintaiku. Di dalam persahabatan pasti ada percintaan. Begitu juga antara kamu dan aku”
“Jadi wajarkah aku memelihara rasa ini padamu? Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga mencintaiku?”
“Wajar saja jika masih dalam batasannya. Aku? Bagaimana denganku? Mungkin kamu tahu, aku belum bisa melupakan dia yang pernah melukai hatiku. Jika aku paksakan cinta ini untukmu pasti akan berakhir dengan perasaan kecewa. Aku tak mau membuat hubungan pertemanan ini yang begitu indahnya menjadi suatu yang membuat antara kita menjadi terluka”
Kuakhiri kata kataku. Dari saat itulah Riyan dan aku berteman semakin akrab. Seperti dua sejoli. Namun kita tidak bisa bersama. Riyan mengerti perasaanku dan aku senang mendengarnya. Dan sampai saat ini tak ada permasalahan menerjang karena kita menjalaninya dengan sifat yang dewasa.

Persahabatan vs Cinta




Persahabatan yang di mulai dari dunia maya. Dion dan Angel, Dion adalah seorang cowok yang cuek, simple, dan cool. Sedangkan Angel adalah seorang cewek tomboy, cuek, tetapi fashion dalam berpenampilan. Persahabatan mereka telah terjalin kurang lebih 4 tahun. Akan tetapi persahabatan mereka beda dari biasanya. Dion dan Angel hanya akrab di dunia maya saja, di dunia nyata mereka berlagak selayaknya tidak saling mengenal satu sama lain. Padahal mereka berdua kuliah di Universitas yang sama, fakultas, seangkatan dan jurusan yang sama pula. Yang membedakan hanya kelasnya saja.
Siang itu mereka memiliki jadwal kuliah yang sama, kelasnya pun bersampingan. Tetapi seperti biasanya mereka tidak saling bertegur sapa. Hanya saling melemparkan senyuman saja tiap kali bertemu.
“Kalian berdua aneh yah…”
“Aneh gimana?”
“Yah aneh, di dunia maya akrab banget, eh pas ketemu di dunia nyata malah saling cuek-cuekan gitu. Aneh kan?”
“He he he he… iya juga sih, Abis dia juga cuek banget kalo ketemu aku. Masa aku yang negur duluan, nggak banget deh!”
“Ehm, dasar…”
Angel berlalu dan meninggalkan Enhy sendirian. Enhy hanya menggelengkan kepala dan menghela nafas panjang melihat kelakuan temannya.
Sepulang kuliah Angel langsung masuk kamar dan membuka NB nya. Berharap Dion mengiriminya pesan melalui e-mail, tetapi apa yang diharapkan Angel tak jadi kenyataan. Perasaan kecewa pun menghinggapinya. Masih dengan perasaan kecewa Angel mencoba menghibur diri dengan memutar musik melalui ponselnya, sambil memejamkan mata mencoba untuk istirahat sejenak.
Tak terasa waktu berputar begitu cepat, Angel terbangun setelah dua jam menikmati tidur siangnya. Setelah Angel tersadar bahwa jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul 06.00 sore. Membuatnya tersentak dan bangkit dari tidurnya, manakala sore itu dia memiliki janji untuk bertemu dengan Dennis. Dennis adalah pacar Angel, mereka telah menjalin hubungan selama kurang lebih dua tahun. Waktu itu Angel masih menjadi mahasiswa baru di fakultas ekonomi dan Dennis adalah seniornya. “Mampus gue… Dennis pasti marah” Angel mencoba untuk menghubungi Dennis dan berniat untuk meminta maaf, tetapi ternyata HP Dennis tidak aktif. Maka Angel pun semakin panik.
Beberapa detik kemudian. Terdengar suara teriakan dari luar kamar, memanggil nama Angel. “Angel… ada yang nyariin kamu” Suara teriakan teman koss Angel “Siapa? tungguin bentar” balas Angel dari dalam kamar. Angel pun bergegas keluar kamar, penasaran akan siapa yang mencarinya di sore menjelang malam ini. Dan ketika Angel melihat sesosok lelaki yang tidak asing lagi baginya, dia pun menghela nafas lega. Ternyata lelaki itu adalah Dennis.
“Ya Allah Dennis… sorri banget, tadi aku ketiduran. Jadi lupa janji sama kamu, Maaf yah!”
“Sudahlah Gell, nggak papa kok… lagian tadi juga aku telat ke tempat kita janjian. Aku bahkan mengira kamu dah marah dan pergi. Aku minta Maaf ya Sayang…”
Dennis sangat menyayangi Angel, setiap kali Angel berbuat salah Dennis pasti memaafkannya. Dua tahun menjalin hubungan menurut Dennis bukan waktu yang singkat, dia berharap Angel menjadi pendamping hidupnya kelak. Karena hari itu mereka batal keluar berduaan, maka Angel memutuskan untuk bersantai di kostan bersama dengan Dennis. Dengan perasaan bersalah Angel mencoba menebus semuanya dengan memasakkan sphagetti kesukaan Dennis.
“Hm… karena hari ini kita batal jalan, dan untuk menebus kesalahan ku. Mau nggak aku buatin sphagetti kesukaan kamu?”
“Wah kebetulan banget bebz, aku juga laper banget… belum makan dari siang tadi.”
“Kasian pacar aku… Yah udah, kamu tunggu bentar yah. Aku buatin”
Angel pun bergegas menuju ke dapur, kali ini dia benar-benar bersemangat memasak untuk sang kekasih.
Dua jam di lalui Angel bersama dengan Dennis, tidak seperti biasanya. Karena kesibukan Dennis belakangan ini menyusun skripsi membuat mereka jarang bertemu. Dan kali ini Angel meluapkan segala kerinduannya ke Dennis dengan bermanja-manjaan. Tetapi waktu pun harus memisahkan mereka, Dennis pamit dan meminta maaf karena kemungkinan beberapa hari ke depan dia tidak bisa menemui Angel. Dan Angel pun memaklumi kesibukan pacarnya itu. Dua tahun mereka berpacaran, baru sekali terjadi pertengkaran itu pun karena kesalahpahaman Angel terhadap Dennis. Saat itu Angel melihat Dennis berjalan dengan wanita lain, yang tak lain adalah sepupunya sendiri. Tatkala pada waktu itu Angel belum mengenali semua keluarga Dennis karena hubungan mereka saat itu masih berusia enam bulan.
Terik matahari di siang ini membuat Angel mengurungkan niatnya keluar kamar. Dia memutuskan untuk tidak kemana-mana weekend kali ini. Karena keadaan kost yang sangat sunyi, Angel mencoba menghibur diri dengan memutar tape di kamarnya. Sambil mendengarkan musik Angel membuka NBnya dan mulai membuka facebook. Sejam ia Online, tak satupun yang mengajaknya chatingan. Karena merasa bosan, Angel memutuskan untuk Offline. Akan tetapi, belum sempat tombol sign out Angel tekan tiba-tiba terdengar nada chat dari NBnya.
“Hai cewe manis… Kamu lagi ngapain?” ternyata Dia adalah Dion.
“Hai… Kemana aja kamu..? aku nungguin kamu dari kemarin tau.”
“Kenapa, kangen yah?”
“Yee… Maunya, lebih ngangenin pacar ku dari pada loe.”
“Ha ha ha ha… Bisa aja. Kemarin aku sibuk, sibuk pacaran maksudnya. He he he he”
“Sama dunk… Kemarin aku seharian sama si doi.”
“Wah berarti ada yang lagi berbunga-bunga nieh?”
“Gak juga seh, hari ini dan beberapa hari kedepan aku nggak bisa ketemu sama dia. Soalnya dia sibuk ngerjain skripsinya.”
“Yah, udah yang penting kan kemarin udah ketemu.”
Perbincangan melalui chat hari itu berlangsung lama, tak terasa suara adzan azhar berkumandang. Menandakan pukul 03.45
“Wah gak terasa udah azhar, aku off dulu yah!”
“Eit… tunggu dulu Ngell, aku mau minta sesuatu ma kamu”
“Apa?”
“Boleh nggak aku minta no. Hp kamu?”
“Ouh, kirain apaan”
“Boleh kagak?”
“Iyya, boleh kenapa tidak. 08975560XXX, ya udah aku off dulu yah!”
“Okay, nanti aku hubungin yah. See u”
Yah, selama 4 tahun mereka hanya berkomunikasi melalui pesan obrolan Fb saja. Dan kali ini Dion memberanikan diri untuk meminta nomor HP Angel. Dan dengan senang hati Angel memberikan nomer ponselnya sebelum mengakhiri obrolan sore itu, dan bergegas mandi. Setelah shalat azhar, Angel mencoba menghubungi Dennis. Tapi hasilnya nihil, Dennis begitu sulit untuk di hubungi. Tiba-tiba Hp Angel berdering, dengan penuh harapan bahwa Dennis menghubunginya kembali. Namun ternyata itu hanya pesan SMS dari nomor yang tak dikenali. Karena merasa malas, Angel tak menghiraukan sms itu. Dan ternyata pemilik nomer itu adalah Dion, karena tak mendapat balasan dari Angel. Dion akhirnya menelepon Angel.
“Wah kamu kok sombong banget seh, sms aku aja gak di gubris” Dion terus nyerocos tanpa memberi Angel kesempatan untuk bertanya.
“Emang ini sapa? nomer kamu gak ke save di ponsel aku?” tanya Angel kebingungan.
“Ouh, sorri… tadi aku sms gak kasih nama. Ini aku Dion.”
“Ouh, Kamu… ada apa Ion?”
“Gak cuman pengen gangguin kamu aja.”
“Hm, gak ganggu kok… malah aku seneng ada yang gangguin, soalnya suntuk di kosan. Gak tau mau kemana.”
“Wah baru kali ini ada cewe yang aku gangguin malah seneng. Ha ha ha dasar cewe aneh.”
“Loh emang kenapa?”
“Hm, gak kok… emang gak keluar?”
“Gak tau mau kemana, lagian gak seru keluar sendirian. Sebenernya sih aku lagi nungguin someone untuk ngajakin jalan. Tapi gak ada tuh”
“Kalo aku yang ngajakin jalan mau gak?”
“Hm, Gimana yah”
Sejenak Angel berfikir, daripada ia bengong sendiri dalam kamar maka Angel menerima ajakan Dion.
“Yah udah, kita ketemu dimana?”
“Serius mau? Gak usah ketemu di luar, aku jemput kamu aja. Okay!”
“Okay… kalo udah di depan kosan aku, kamu sms ajah nanti biar aku yang keluar.”
“Yah udah, siap-siap gih.”
Setelah menutup telepon, Angel pun bersiap-siap dan mengganti pakaiannya. Untuk pertama kalinya setelah 4 tahun bersahabat, mereka keluar berduaan. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Dion pun datang. Rasa canggung menyelimuti mereka berdua, secara ini kali pertamanya mereka bertemu langsung.
Dengan laju motor 40km/jam, Dion berhenti di suatu tempat yang jika didatangi oleh pasangan kekasih, tempat itu sangat romantis. Dan ternyata benar, Dion sering ke tempat ini dengan pacarnya. Dion telah memiliki pacar, dia telah menjalin hubungan selama 3 tahun. Hubungan Dion dan pacarnya berawal dari SMU, awalnya mereka berteman atau bisa di bilang bersahabat. Hingga akhirnya Dion merasa cocok dengan Ranti dan menjalin hubungan hingga saat ini. Hubungan mereka semakin awet manakala Ranti juga kuliah di Universitas yang sama dengan Dion, tetapi berbeda jurusan dengannya. Kalau dilihat dari segi fisik, Ranti seorang gadis yang biasa saja, penampilannya pun sederhana. Tapi itulah yang membuat Dion sangat menyayanginya, hanya satu yang membuat Dion terkadang merasa jenuh dengan hubungannya. Ranti memiliki sifat pencemburuan dan egois.
Setelah memarkirkan motornya, Dion mengajak Angel ke sebuah tempat.
“Gimana Gell, kamu suka nggak sama suasananya?”
“Hm, gila tempatnya keren banget Ion. Kamu sering ke tempat ini?”
“Iya, ini tempat favorite aku dan pacar ku. Kalo lagi pacaran aku pasti kesini.”
“Trus, tujuan kamu ngajak aku kesini apa?”
“Yey… otak kamu jangan ngerres. Selain tempat pacaran, di sini juga ada kuliner yang enakkkk bangettt… nah tujuan aku ngajak kamu ke sini, yah untuk nyobain kuliner disini. Uuuhh dasar!”
“He he he he… ngomong donk.”
Setelah memesan makanan yang menurut Dion enak bangettt sampe T nya tiga kali itu, he he he he mereka pun melanjutkan perbincangannya.
“Gimana, enak nggak?”
“Hm…. Enak! he he he …”
“Yah jelas lah enak, dua mangkuk kamu abisin sendiri. Kalo gak enak, berarti kelaperan dunk. He he”
“He he he he… keduanya seh, selain karena kelaperan makanannya juga enak. Jadi pas deh”
“Yah udah, kamu habisin dulu makanannya. Terus aku punya satu tempat lagi yang pasti seru buat kamu.”
“Okay…”
Selintas Angel memandangi wajah Dion, menatapnya dalam-dalam dan bergugam dalam hati. “Ternyata ngobrol dengan Dion secara langsung lebih seru daripada melalui obrolan Facebook. Dan malam itu Angel benar-benar menikmati suasana dengan Dion, sampai-sampai dia ngelupain kerisauannya karena tidak mendapat kabar dari Dennis seharian ini.
Tepat pukul 11.00 malam, mereka tiba di kostan Angel.
“Yah udah, aku pamit yah… thanks atas waktunya.”
“Okay, sama-sama. Justru aku yang berterima kasih udah mau ngajakin ke tempat yang wow banget. Kamu hati-hati yah, kalo udah nyampe rumah sms aku!”
“Okay, Cewe manis…” Dion pun berlalu dengan senyum manisnya.
Belum sampai ke depan pintu, ponsel Angel berdering. Dan semakin membuat cewek itu bahagia karena yang menelepon adalah Dennis.
“Hallo sayang…”
“Hay beb… gimana kabar kamu?”
“Sorri yah sayang, seharian aku gak ngasih kamu kabar. Aku baik-baik aja kok, kamu?”
“Aku baik juga. Gak papa kok… tadi aku lagi kangen aja, makanya aku hubungin kamu”
“tadi handphone aku ketinggalan di rumah bebz, sekali lagi maaf yah.”
“Okay gak masalah kok.”
“Yah udah, aku istirahat dulu yah… capek banget seharian ngurus ini itu. Good night beb. Love U”
“Love U too honey”
Meskipun Angel masih merasa kangen dengan Dennis akan tetapi, sebagai cewe yang selalu mensuport pacarnya. Angel harus mengerti dengan keadaan Dennis saat ini. Angel merebahkan badannya ke kasur empuknya, dan mulai tersenyum sendiri. Manakala ia mengingat apa yang telah ia lewati malam ini bersama Dion.
Semenjak pertemuan malam itu, Angel dan Dion tak lagi canggung ketika bertemu di kampus. Mereka saling bertegur sapa, bahkan jauh kelihatan lebih akrab dari biasanya. Bahkan tak jarang Dion mengajak Angel ke kantin kampus barengan dan yang lebih lagi Dion berani mengajak Angel pulang bersama. Siang itu, melalui sms Dion mengajak Angel untuk menemaninya ke toko buku.
“Angel, siang ini kamu ada acara gak?”
“Nggak, kenapa Ion?”
“Nemenin aku ke toko buku mau nggak?”
“Hm, Okay deh… ketemuan di toko buku atau gimana?”
“Barengan aja, Aku tunggu di parkiran yah!”
“Okay…”
Siang itu mereka pun menghabiskan waktu berdua di toko buku. Setelah mendapatkan buku yang Dion cari, maka mereka memutuskan untuk makan siang dulu baru pulang.
Hubungan persahabatan Dion dan Angel semakin akrab, bahkan jika ada orang baru yang melihatnya. Akan mengira mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Angel pun terlarut dalam perlakuan Dion yang begitu perhatian dengannya. Sampai pada suatu ketika, Angel merasa hubungan mereka sudah di luar kodratnya sebagai sahabat. Bahkan Angel merasa jika di dekat Dion perasaan saat bersama dengan Dennis muncul menghinggapinya. Begitupun dengan Dion, rasa sayang sebagai sahabat kepada Angel, seakan seimbang dengan rasa sayang dia ke Ranti pacarnya. Bahkan bisa di bilang, perhatian Dion jauh lebih terfokus ke Angel di bandingkan ke Ranti pacarnya sendiri. Lamunan Angel berhamburan ketika mendengar ada yang mengucap salam. Dan itu adalah Dennis pacarnya.
“Assalamu Alaikum…”
“Walaikum Salam… Hey bebz, tumben kamu dateng gak ngasih kabar dulu.”
“Sengaja, aku pengen ngasih surprise buat kamu.”
“Hm, surprise apaan?”
“Nih, aku dateng gak ngomong dulu.”
“Itu seh bukan Surprise, surprise buat aku tuh. Yang kamu dateng kesini ngebawa cincin trus ngelamar aku deh. He he he he… becanda”
Ternyata apa yang Angel omongin itu terjadi, niat Dennis menemui Angel siang itu memang untuk memberinya sebuah cincin. Dan ingin memberitahukan niatnya untuk melamar Angel, Dennis sengaja menanyakannya terlebih dahulu ke Angel, sebelum Dennis menemui kedua orangtua Angel dan meminangnya secara resmi. Sontak Angel terkejut, perasaannya berubah menjadi tidak karuan. Yang mana seharusnya Angel merasa senang, tetapi justru dia merasa tidak ingin semua ini terjadi. Angel hanya diam terpaku, tapi Dennis terus mendesaknya dengan pertanyaan dan menyodorkan sebuah kotak berisikan cincin permata Dennis pun berkata “Will you married me?” sebuah pertanyaan yang singkat tapi Angel bingung menjawabnya.
“Apa keputusan kamu tidak terlalu cepat Den?”
“Apanya yang cepat Beb, kita udah menjalin hubungan selama 2 tahun lebih. Apa itu tidak cukup untuk kita membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius? atau kamu tidak ingin mendapingiku hingga akhir hayat memisahkan kita?”
“Bukan begitu Den. Tapi…”
Ucapan Angel terhenti manakala ia merasa bahwa perasaannya kepada Dennis sudah mulai memudar. Karena kesibukan Dennis, membuat merasa perhatian Dennis terhadapnya mulai berkurang. Dan pikirannya terfokus ke Dion, orang yang memberinya perhatian lebih dari Dennis.
“Tapi apa?”
“Beri aku waktu, Saat ini aku belum bisa menjawabnya. Semua butuh pertimbangan.”
“Baiklah, aku takkan menganggumu beberapa hari ke depan. Pikirkanlah ajakan ku, sungguh aku sangat menyayangimu… Love U” Dennis pun pergi meninggalkan Angel sendiri.
Dengan ucapan “LOVE YOU” dan sebuah kecupan mendarat di kening Angel, semakin membuat Angel bimbang. Ia tahu bahwa Dennis benar-benar menyayanginya. Tetapi ia juga tak mampu membohongi hatinya, kalau saat ini perasaannya hanya tertuju pada Dion. Dennis pun meninggalkan Angel di kamar kostnya sendirian. Dia memberikan kesempatan kepada Angel untuk berfikir, Dennis sadar bahwa ajakannya memang terkesan mendadak.
Angel hanya duduk terdiam seorang diri dalam kamar kostnya yang mungil itu. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dua jam Angel lalui berdiam diri, dan akhirnya memutuskan untuk menemui Dion.
“Hallo Ion, kamu dimana?”
“Di rumah aja… Kenapa Ngell?”
“Boleh gak kita ketemuan, ada yang mau aku omongin nih.”
“Hm, Boleh kapan?”
“Sekarang… aku tunggu kamu di taman plaza yah!”
“Okay…”
Satu jam lamanya Angel menunggu, dengan penuh kesabaran. Berharap Dion benar datang dan ia pun meluapkan segala kegundahannya. Bahkan terlintas dipikiran Angel ingin menanyakan perasaan Dion terhadapnya, agar segala bentuk perhatian Dion ke Angel bisa terjawab. Dan Angel bisa mengetahui perasaan Dion terhadapnya.
“Hay Ngell… sorri banget yah, tadi aku ngaterin Ranti pulang dulu, trus nemuin kamu.”
“Ahh… nggak papa kok. Lagian aku juga gak tau kalo kamu lagi sama Ranti.”
“Santai aja kali, hubungan kita berdua masih aman.”
“Maksud kamu?”
“Hubungan persahabatan kita. Aku udah nyeritain semua ke Ranti, tentang persahabatan kita yang aneh banget. Bahkan aku bilang ke Ranti, andai hati aku tidak terpaut lebih dahulu ke dia. Ada kemungkinan aku jatuh cinta pada mu.”
Sontak Angel kaget mendengarkan ucapan Dion barusan. Ternyata Dion bener-bener hanya menganggap Angel real sebagai sahabatnya saja. Perasaan kecewa pun merasuki hatinya, dia merasa jauh lebih sakit ketimbang di tinggalkan oleh Dennis, seorang cowok yang telah menemaninya selama 2 tahun lebih, dan telah memberikan kasih sayang penuh kepadanya. Maka Angel pun berubah pikiran untuk menanyakan perasaan Dion terhadapnya, karena belum sempat pertanyaan itu terlontar. Dion telah memberi isyarat lebih dahulu kepadanya. Bahwa Ranti hanyalah satu-satunya gadis yang ada di dalam hati Dion saat ini.
Perasaan kecewa menghinggapi dada Angel. Dia merasa bahwa Dion hanya mempermainkan perasaannya saja. Namun kembali lagi, Angel harus sadar bahwa di antara perasaan dia terhadap Dion terselip rasa yang tertinggal untuk Dennis. Kalaupun memang Dion sangat menyayangi Ranti lebih dari perkiraan Angel. Itu semua harus ia terima, sebab Ranti memang lebih dahulu mengisi hati Dion sebagai kekasih. Walau Angel mengenal Dion lebih lama, sebagai sahabatnya.
Diamnya Angel membuat Dion merasa heran, dan dia pun menanyakan tujuan Angel memanggilnya ke taman.
“Woii… ngelamun ajah, tadi kamu bilang mau ngomong sesuatu sama aku. Apa?”
“Ahk, nggak kok… gak ada. Tadi aku cuman suntuk di kosan sendirian, makanya pengen ketemu sama kamu. Sorri banget yah, tadi aku beneran gak tau kalau kamu lagi sama Ranti. Sekali lagi maaf yah!”
“Woles woi… kamu kayak baru kenal aku aja. Keliatannya kamu lagi galau nih, ya udah cerita deh!”
“Hm, tadi Dennis datang menemui ku.”
“Wah bagus dunk… tapi kok kamu murung?”
“Aku bingung dengan perasaan aku saat ini”
“Kenapa?”
“Dennis ngajak aku nikah”
“Lantas apa yang membuat kamu bingung?, bukannya itu kabar baik. Itu berarti Dennis serius sama kamu.”
“Iya aku tau itu. Tapi…”
“Tapi apa?”
Angel bingung harus berkata apa lagi. Ia ingin meluapkan perasaanya kepada Dion tapi, Angel telah mendengarnya sendiri kalau Dion begitu menyayangi pacarnya. Dan itu berarti tak ada kesempatan untuk mereka bisa bersatu.
Melihat Angel kebingungan Dion pun berusaha menenangkannya. Sore itu Dion mengajak Angel ke pantai, untuk membuat suasana hati Angel sedikit tenang. Setibanya mereka di pinggir pantai, Dion menggenggam erat tangan Angel. Dan seketika itu pula Angel berbalik ke arah Dion, dan menatapnya dalam-dalam. Dan beribu pertanyaan terlintas di benaknya, “Apa ini?, apa semua ini hanya wujud perhataian Dion terhadapku sebagai seorang sahabat” rasa dalam hati Angel pun menjadi tak karuan, ia berusaha mengubur dalam-dalam perasaannya terhadap Dion.
Dion sadar, dengan tindakannya itu akan menimbulkan beribu pertanyaan terhadap Angel. Dan tanpa berfikir panjang lagi. Dion mengungkapkan perasaanya kepada Angel.
“Rasa cinta itu memang tak ada yang tahu kapan ia datang Dan pergi kapan pun ia inginkan. Begitupun dengan perasaan yang aku miliki saat ini terhadapmu.”
“Maksud kamu apa Ion?”
“Angel, sebenarnya perasaan ku terhadapmu telah lama aku pendam. Tetapi pada saat itu aku bingung dengan perasaan ini. Seperti yang kamu tahu, kita hanya saling mengenal satu sama lain lewat Facebook. Selama 4 tahun, tanpa berfikir untuk bertemu. Dan ketika kita berada dalam ruang lingkup yang sama, aku telah bersama wanita lain. Dan waktu itu aku berusaha mencari tahu tentang dirimu, setelah mengetahui kau telah bersama cowok lain, maka ku urungkan niat ku untuk mengenal mu lebih dekat, bahkan untuk menegurmu pun aku tak sanggup. Aku takut, setelah kita akrab perasaan ku berubah menjadi semakin menyayangimu padahal kau dan aku telah memiliki pasangan masing-masing.”
Dion menjelaskan panjang lebar mengenai perasaannya terhadap Angel, bentuk perhatian yang ia berikan kepada Angel itu benar-benar real dari dalam hati. Seketika Angel tersadar, bahwa perasaannya kepada Dion tidak bertepuk sebelah tangan. Perhatian yang selama ini ia rasakan dari Dion kembali mengoyak hatinya. Entah apa yang harus dia lakukan, belum sempat Angel mengungkapkan perasaanya. Dion kembali mengungkapkan isi hatinya saat ini.
“Pertemuan kita beberapa minggu yang lalu, membuat rasa percaya diriku kembali dan sejenak melupakan status hubungan ku dengan wanita lain. Jujur aku merasa nyaman dekat kamu, tapi ketika aku menyadari kau telah ada yang memiliki dan begitupun dengan ku. Membuat ku kembali tersadar tak sepantasnya kita mengkhianati perasaan pasangan kita. Namun aku tak ingin hubungan kita berakhir sampai disini.”
Tapi belum selesai Dion mengungkapkan perasaannya, Angel mulai bersuara.
“Tapi… Aku terlanjur menyayangimu Dion, justru perasaan ini lah yang membuat ku berfikir menerima pinangan Dennis. Lalu apa yang harus ku perbuat?”
“Angel, jika kita bisa menjaga persahabatan kita hingga saat ini. Lalu kenapa mesti kita nodai dengan perasaan yang hanya sesaat ini. Dennis adalah lelaki yang baik, aku yakin kamu akan hidup bahagia bersamanya. Tadi aku bertemu dengan Ranti, tak sedikitpun ia protes dengan sikap cuekku terhadapnya, aku tak sanggup meninggalkannya begitu saja. Dia seorang wanita yang telah mau menerimaku apa adanya, hingga detik ini perasaannya terhadap ku tidak berubah, meskipun telah beberapa minggu aku mencampakkannya.” Dion terus berusaha meyakinkan Angel bahwa apa yang dirasakannya hanyalah perasaan sesaat.
Angel hanya diam, terpaku atas pengakuan Dion terhadapnya. Dan mulai berfikir, apa yang Dion katakan itu benar adanya. Tak seharusnya ia mengkhianati perasaan Dennis kepadanya, orang yang selama 2 tahun lebih menyayanginya dan terus bersabar akan segala kelakuan Angel. Sesaat Angel kembali menatap Dion dan mulai tersenyum, melihat senyum dari wajah Angel yang mulai berkembang Dion pun merasa lega. Bahwa tak ada yang mesti tersakiti dengan perasaan ini, sekaligus merasakan plong karena perasaan yang ia pendam selama 4 tahun telah ia ungkapkan. Walaupun ia sadar bahwa mereka tidak bisa bersatu.